Feeds:
Posts
Comments

Gratis kok :D

Ada mug gratis
Punyamu
Tidak boleh diambil orang lain
Tapi mug gratis

Mug gratis
Bentuknya jelek
Harusnya warnanya jangan gitu, pikirmu
Mugnya gratis memang
dan tidak boleh diambil orang lain
Ya…tapi mug gratis

Memang harusnya gratis
Siapa bilang,
dicintai,
harus bayar? Aneh kan?

Eh, kok jadi cinta ya?
Harusnya yang gratis itu mug
Ya cinta juga gratis

Dunia ini gratis
Siapa bilang ada pajak
harus bayar ke bumi? Aneh kan?
Langit juga gratis
Sinaran mentari gratis
Lantas mengapa cinta berbayar?
Ibumu tidak dibayar
gratis juga untuk mencoba hidup

Eh, ini kan mug ya?
Atau cinta? Ibu atau dunia?
Masih belum boleh diambil orang lain?
Gak akan diambil juga sih.

Jogja, 20 April 2012

Hujan Sore ini

Sore in begitu romantis, Sayang…

Ada hujan menari berkilauan

Rintiknya ikut menari bersama musik yang diputarkan

Ada reggae, Sayang…

Tidak seperti biasanya

Ada hujan menari berkilauan

Aku melihat mereka menari

Aku akan tunggu sampai mereka selesai

Tidak ada lagi yang serius,

Jadi aku tunggu saja

Yang serius tidak lagi penting

Jadi aku rileks saja dan santai

Cuma itu yang bisa aku harapkan dari hidup sekarang

Ada hujan menari berkilauan

Menari bersama mereka menyenangkan

Merasakan mereka menari bersama setiap pori-pori di kulitku

Merasakan mereka merabaiku

Lalu tertidur di bumi yang diabaikan

 

Jogja, Kampusku, Maret 2012

Akhir-akhir ini aku gampang banget nangis. Aku takut aku depressed lagi kayak dulu. Dulu sih waktu awal-awal jatuh hati, rasanya bisa ikhlaaaas gitu. Pulang dari kampus bisa nyanyi-nyayi di motor. Ketemu cuma pas rapat, gak nyampe 2 jam, rasanya senang senang senang. Sumpah, aku benar-benar menikmati rasanya bisa jatuh hati lagi. Dulunya aku malah sampe mikir gini, “Ni kayaknya bakalan susah banget buat suka lagi sama cowok.” Iya, bener, sampe lama banget aku menikmati masa single, bebas, mandiri, aktif, rajin menabung, hahahaha… Kelas-kelas di jurusanku benar-benar enjoyable apalagi kelas konsentrasi sastranya. Ada passion, kecintaan khusus, sama yang aku pelajari itu.

Laki-laki yang dekat dengan saya sekarang gentleman. Cara dia memperlakukan (semua) perempuan itu bikin kharismanya keluar. Aku kurang tahu persisnya gimana, tapi dia itu pintar menghargai orang lain dan somehow (walaupun galak), dia lovable.

One day, temenku sukses mencomblangi kami. The first date, iyay! It was so nice. Kami saling buka-bukaan tentang “borok” kami. Mungkin dia kira aku bakal ilfil, tapi ntah kenapa aku gak peduli sama masa lalunya dia.

Dan kencan pun berlanjut, kami semakin dekat. Dia bilang dia sudah klop sama aku tapi dia belum siap untuk terikat. Lagi-lagi aku gak peduli, selama dia sama aku.

Ketidakpedulianku, seperti semua entitas di dunia ini, pun tidak abadi. Waktu lagi main bareng sama dia, dia bilang gini, “Eh aku punya sms lucu! Nih, kamu baca aja sendiri.”

Oh, dari seorang perempuan. Adik angkatannya. Aku pun kenal perempuan itu. Eh! Jarinya dia kepeleset! Keliatan lah sms lain yang tertulis seperti ini, “Kangen J”

Selang satu jam kemudian, setelah aku tertawa tapi pengen nyakar tembok dalam waktu yang bersamaan, dia bilang gini, “Kamu yang kuat ya kalo sama aku.”

Aku bilang gini, “Aku tau kok kamu punya TTMan. Tapi gini, orang yang berduka karena ibunya meningggal bakal nangis kalo dikasih tahu dia disuruh sabar. Kamu tau kan maksudku?”

Lucu memang. Daripada menyuruh aku untuk tetap kuat, gimana kalo kamu berhenti main-main sama aku?

Mungkin “harga tawarku” rendah. Karena apapun yang dia lakukan, siapapun yang dia suka, aku tetap suka dan sayang sama dia.

Sekarang aku ngrasa rapuh, kuatku gak bisa terus-terusan. Aku gak mau keseringan nangis. Aku sama seperti dia yang pengin dimengerti. Sama aja.

Pun aku pernah posting kalau dia itu suka banget ngritik. Dia marah waktu aku bilang, “Tenang. Rejeki itu dari mana-mana.”

Tapi kritiknya dia wuuuuiiiih…

Kadang pas aku butuh temen curhat, dan simply butuh didengerin dia malah bilang, “Mungkin kita beda, aku gak terlalu mikirin masalah kayak kamu.”

Aku cuma butuh share kok, aku cuma pengen ada yang ngerti kalo aku sedih karena aku stucked sama skripsi misalnya. Atau dia malah berceramah panjang lebar kalo aku kurang bersyukur lah, kalau orang punya prinsip gak bakal ngeluh lah…

Dia sendiri padahal pernah bilang ke aku, “Aku gak butuh kuliah malam-malam, aku cuma butuh didengerin. Kalo yang dengerin diem aja aku udah seneng kok.”

Terus, aku gimana?

Gak tau ini sampai kapan aku kuat. Mungkin nanti kalo keadaan tetap kayak gini, aku akan patah.

Waktu Bangun Pagi

Setiap bangun pagi, aku suka bingung; aku di mana, hari  ini mau apa, aku tuh ngapain, dll. Dan akhir-akhir ini seringkali waktu bangun pagi aku kangen masa lalu. Tiap subuh ada yang telpon bangunin, “Hun…bangun, uda shalat subuh belum?” Ada yang bilang aku cantik dan penampilanku elegan, padahal waktu itu dandananku kumel bin asal. Kalau aku sms, “Luv u :) ” ada yang reply, “Me too…”

That was sweet moment actually. Terlepas dari apapun yang terjadi, hal baik pernah terjadi di hidupku. Patut disyukuri sekali, aku pernah sebegitunya disayang sama orang yang juga pernah aku sayang. Nah…rasanya mau nangis nulis ini. Tuhan benar-benar sayang ke aku. Tuhan bikin orang sayang sekali sama aku dan setelah semua berakhir, aku dipaksa mendewasakan pribadiku.

Yah namanya juga dunia. Nothing lasts forever. Tapi tetap saja, semua itu begitu indah. Walaupun awalnya aku hanya marah-marah dan mengutuk si masa lalu. Bukan orangnya, tapi cintanya yang bermanifestasi dan menyelusup dalam diri orang-orang di sekitarku sekarang.

Subhanallah. Adalah benar keikhlasan dan kesabaran itu berbuah manis. Pada awalnya tiap hari hanya mengutuk dan menyesal dan dan dan dan dan…tanpa disadari, semua itu sudah dilewati selama 32 bulan.

Memberi tahu seorang anak bahwa ia bodoh tidak menjamin anak itu akan menangkap pesannya dan membuat anak itu menjadi lebih rajin belajar. Ada anak-anak khusus yang langsung down kalau tahu bahwa mereka bodoh; mengkritik mereka menjadi counterproductive karena hal itu hanya mematikan antusiasme belajar mereka.
Kamu, Mas, suka sekali mengkritik saya. Bahkan waktu pertama kali kamu mengantar saya pulang, kamu langsung bilang bahwa saya tidak menikmati hidup karena semua serba terburu-buru. Oh, benar sekali. Terima kasih. Lama kelamaan saya tidak suka, kritikmu tidak membangun tapi malah membuat saya merasa tidak berharga. Kamu bilang, “Masalahku lebih besar, tapi you’re worse than me.” Saya belum cerita semua dan kamu langsung menghakimi seperti itu. Kamu juga bilang “You’re still young.” Saya mengerti, Mas. Saya mungkin tidak sejalang yang Mas kira tapi saya lebih percaya ilmu pengetahuan yang sudah pasti daripada omongan Mas. Kamu selalu mengkritik, mengkritik, mengevaluasi setiap kamu mengantar saya pulang ke rumah. Saya sudah mengerti, Mas. Kritikmu tidak memperbaiki apapun.
Kamu mungkin mau membantu saya, tidak mau meninggalkan saya ketika saya terbakar sendirian. Tapi bukan kamu, Mas, yang bisa bantu saya. Kamu cuma membawa lebih banyak bensin dan menyiramkannya di tubuh saya.

Saya percaya, Mas, kamu orang baik; yang bukan untuk saya dan menemani saya melewati semua api ini. Saya yakin Mas pasti paham. Sudah berakhir saja, ya, Mas. Sakit sekali soalnya. Tidak bisa saya nikmati. Saya juga tidak mau lagi melihat senyum yang dipaksakan dari mulutmu. Saya tahu kamu marah dan kecewa, tapi saya masih muda dan tidak memiliki pengalaman sebanyak kamu.

Saya tahu saya bermasalah. Tidak perlu ditunjukkan masalah saya apa. Saya sudah tahu. Kamu tidak menyalahkan saya, tapi kata-katamu membuat saya merasa saya tidak berharga. Saya tahu maksudmu baik, tapi pesan itu menjadi berbeda karena yang mendapatkannya adalah saya.
Saya si anak bodoh itu, bukan bodoh mungkin; hanya belum mengeluarkan seluruh kemampuan dalam diri saya. Saya sedang menjalani terapi, Mas, tolong jangan buat saya merasa lebih jatuh lagi dengan terus menunjukkan kelemahan saya, bahwa saya tidak bisa ini dan itu. Saya mau berbagi rasa juga sudah tidak bisa, kamu tidak bisa saya percaya. Saya butuh orang untuk membuat bahwa saya cukup berharga untuk hidup, bukan orang yang tahu kelemahan saya apa.

True trus Trust

All I need is to know that I can trust someone.

I failed and saw his upset unnatural smile hurts me. I’m sick of being a failure and warned that I might be a psychopathic. Then you asked me to forget what you said about me, your “evaluative judgment” about me. Just because I am not bitchy enough, I don’t deserve you. I can’t trust someone who rejects me. Yes it’s my bad for giving you less trust. But how can I trust you? A week dating and I cannot even sure that you’re interested in me. I cannot put my feeling to you. I know I make you upset and now I wish I could run as far as I can from you.

Hari ini aneh.
Saya memiliki kecemasan yang sangat halus di dalam hati dan itu mengganggu. Lalu Sister saya bilang, menghela napas sambil bilang “Ahh…yasudalah…” pun sudah membuat pikiran lebih tenang. Benar saja. Langsung relaks. Saya tidak siap materi apa hari ini, bingung. Namun rasa tenang dan kepasrahan membawa keberuntungan. Kelas hari ini sepi tapi menyenangkan, semua mengalir seperti air dengan tawa senang.

Lega? Iya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.